Siaran Pers KontraS Papua Kecam Serangan Brutal TNI/POLRI di Kiwirok

Siaran Pers

KontraS Tanah Papua

Laporan Situasi Pasca Serangan Udara di Distrik Kiwirok, Pegunungan Bintang – Papua, 6 Oktober 2025

 

Kronologi Kejadian

Pada tanggal 6 Oktober 2025, terjadi serangan udara di Distrik Kiwirok yang diduga kuat dilakukan oleh militer Indonesia dengan menggunakan dua pesawat  tempur Tucano buatan Brasil. Serangan ini menargetkan wilayah yang oleh klaim militer sebagai basis Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB). Namun faktanya, serangan justru menghantam area pemukiman sipil, kawasan hutan, perkebunan serta lokasi sipil lainnya.

Ini merupakan serangan yang kedua terjadi di Kiwirok. Sebelumnya pada tahun 2021, KontraS Tanah Papua mencatat, insiden serupa juga terjadi yang menyebabkan kerusakan fasilitas sipil seperti rumah, sekolah, dan fasilitas umum akibat penggunaan bom mortis. Selain itu serang tersebut juga meninggalkan korban sipil, mulai dari 3000an warga sipil yang terpaksa mengungsi ke tengah hutan hingga ke lintas batas Papua Nugini, tetapi juga korban meninggal akibat kekerasan dan kelaparan ekstrim pada operasi militer tersebut.

Hingga kini, berdasarkan laporan yang diterima, masyarakat setempat melaporkan kerusakan rumah da kebun warga serta sejumlah infrastruktur sipil yang hancur. Operasi militer tersebut menimbulkan ketakutan dan trauma akibat ledakan dan suara pesawat tempur. Meski belum ada korban jiwa, namun risiko kekerasan tetap tinggi terhadap warga sipil yang tidak terlibat dalam konflik.

 

Kekhawatiran

KontraS Tanah Papua mencatat pola operasi militer yang menggunakan alat utama sistem sekata (alutista) berat buatan luar negeri, termasuk dari Brasil, Serbia, Inggris, Australia, dan Amerika. Media internasional seperti The Saturday Papen (Australia, 2018), pernah menyebut dugaan penggunaan fosfor putih oleh militer Indonesia di papua, yang memperkuat kekhawatiran akan pelanggaran Hukum Humaniter. 

Sejak 2024, penggunaan pesawat CASA buatan CASA dalam operasi di Intan Jaya menandai peningkatan intensitas serangan udara di berbagai wilayah konflik bersenjata di Papua.

 

Tuntutan

Sehubungan dengan operasi militer di Kiwirok dan pola kekerasan yang berulang, KontraS Tanah Papua, menyampaikan tuntutan sebagai berikut:

  1. Hentikan Kekerasan terhadap Warga Sipil
  2. Tarik militer non-organik dari seluruh wilayah konflik di Papua
  3. Tegakkan Akuntabilitas dan Transparansi penggunaan alat perang berat di Papua
  4. Pendidikan Hukum dan HAM bagi Aparat TNI/POLRI
  5. Berikan Akses Pemantauan Independen untuk datang ke Papua
  6. Buka ruang dialog kemanusiaan antara rakyat Papua dan Indonesia

 

Penutup

KontraS Tanah Papua menegaskan bahwa pendekatan kekerasan tidak akan pernah menyelesaikan konflik yang struktural dan historis. Sehingga negara berkewajiban melindungi warganya, bukan menjadikan mereka korban dalam konflik yang tidak mereka pilih. Sebab, keselamatan warga sipil adalah hukum tertinggi dalam situasi apapun.

 

Editor: Nare